Kongo Dinobatkan Sebagai Kawasan Pemerkosa Paling Jahat Didunia


Kabardanberita.com -Karena konflik berkepanjangan tentara-tentara Kongo lebih cenderung memperkosa para wanita dari pada melindunginya. Mereka terlihat nampak haus akan perempuan. Di provinsi Sud Kivu, Republik Demokratik Kongo tercatat sebanyak 248 perempuan mengaku diperkosa oleh beberapa tentara, bahkan Provinsi tersebut sebagai pusat kawasan pemerkosaan paling jahat di dunia.



Setiap harinya lebih dari 1.100 perempuan diperkosa oleh tentara Kongo yang terkenal ganas. Angka kekerasan seksual pada perempuan di negara Kongo tercatat 26 kali lipat dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya, seperti yang disebutkan America  Journal Of Public Healt pada hari Selasa 10 Mei 2011 silam. Hasil studi tersebut disiarkan oleh pers publik bahwa lebih dari 400.000 perempuan yang berusia 15-49 tahun telah mengalami tindakan kekerasan seksual. 



Laporan PBB sebelumnya mencatat dalam jangka waktu yang sama mencapai 15.000 kasus pemerkosaan. Maka tidak heran jika kawasan tersebut dijuluki PBB dengan " ibu kota pemerkosaan didunia". Akibatnya banyak perempuan menderita traumatik berat seumur hidup karena kasus pemerkosaan. Kelompok aktivis HAM dari PBB dan pemerintah-pemerintah asing mengeluh terjadinya tindakan kejahatan yang dilakukan oleh tentara-tentara Kongo. Dari kesaksian korban tindakan keji itu dilakukan dimana saya yang mereka mau seperti tanah lapang, semak-semak, reruntuhan bangunan dan lainnya. 

Rumah sakit Nakiele melaporkan sebanyak 121 perempuan setempat menjadi korban pemerkosaan dalam jangka waktu 2 hari. Sementara di dekat kota Abala seorang perawat melaporkan sebanyak 55 perempuan telah diperkosa. Di desa Kanguli sebanyak 72 perempuan dilaporkan oleh dinas kesehatan telah diperkosa pada hari yang sama. Losema Etamo Ngoma melaporkan kepada AFP bahwa sekitar 150 pria bersenjata, melakukan tindakan kekerasan, penjarahan dan pemerkosaan dibawah komando kolonel militer nasional Nyiragire Kulimushi.


Penulis study Amber Peterman berkata "Hasil studi tentang tindakan kekerasan seksual di negara Kongo menyatakan bahwa kekerasan seksual sangat jauh dari prevalensia". Hasil dari study tersebut merupakan pemikiran Konservativ, karena tidak semua kasus terdata atau dilaporkan takut soal pengucilan, stigma dan malu terhadap lingkungan sosial. Namun sayangnya peneliti yang mengumpulkan data dari tahun 2006-2007 tidak mencakup tindakan kekerasan pada perempuan berusia 15-49 tahun dan juga tidak mencakup tindakan seksual pada laki-laki muda dan dewasa.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama