kabardanberita.com -Kisah ini bermula dari santri yang sangat mencintai dan kagum pada guru agamanya. Santri tersebut menberikannya suatu hadiah yang kemungkinan akan disukai guru agamanya. Yaitu seorang guru yang agama yang selalu mengajarkan akudah kepada santri-santrinya. Dia selalu mengajarkan lafal "Laillahaillallah" kepada santrinya dan senantiasa menjelaskan arti dan maknanya.
Guru agama tersebut senantiasa sabar mendidik santrinya dengan teladan yang selalu diajarkan oleh Rasulullah SAW. Ketika sedang mengajar aqidah, beliau senantiasa berusaha menanamkan kedalam jiwa santri-santrinya agar selalu mengingat apa yang diajarkannya.
Sang guru diketahui sangat gemar memelihara kucing dan burung dirumahnya. Lalu ada seorang murid memberikan hadiah padanya seekor burung kakak tua yang aktif dan lincah. Sang guru sangat menyukainya dan semakin hari sang guru sangat menyukai burung tersebut dan Ia pun sering membawanya ketika ia sedang mengajar santri-santrinya. Karena sering dibawa sang guru mengajar santrinya, akhirnya burung kakak tua itu semakin pandai mengucapkan kalimat tauhid "Laillahaillallah". Dan ternyata burung kakak tua itu pun mampu mengucapkan lafal "Laillahaillallah" siang dan malam denga lancar.
Suatu hari ada seorang santri yang melihat sang guru agamnya sedang sedih dan menangis. Sang santripun bertanya pada guru agamanya.
Sang Santri : " Guru mengapa engkau tampak terlihat sedih dan muram ? " tanya sang santri
Sang Guru : " Kucingku telah menerkam burung kakak tua hingga membunuhnya" jelas sang guru dengan nada terbata-bata
Sang Santri : " Karena inikah engkau bersedih dan menangis guru ? Sang santri bertanya dengan keheranan
Sang Santri : " Kami akan bawakan burung yang lain dan jauh lebih lincah dan aktif dari burung sebelumnya ! " Tambah sang santri
Sang Guru : " Bukan karena sebab itu aku menangis dan bersedih, tetapi yang membuat ku bersedih adalah mengapa ketika diserang oleh kucing, burung Kakak tua itu hanya bisa menjerit sampai ajalnya. Padahal burung itu selalu mengucapkan tauhid "Laillahaillallah" siang dan malam. Tetapi mengapa ketika ia diterkam oleh kucing ia seakan lupa dengan kalimat tersebut yang ada hanyalah jeritan dan rintihan tanpa mengucap kalimat tauhid "Laillahaillallah" sedikitpun." Jelas sang guru
Sang Santri terdiam dan merenung mendengar penjelasan dari sang guru.
Sang Guru : " Sewaktu hayatnya burung itu hanya mengucapkan lafal "Laillahaillallah" hanya dengan lisannya saja, sementara hatinya tidak menghayati dan memahami makna dari lafal "Laillahaillallah" itu sendiri." Tambahnya
Sang guru khawatir kepada setiap santrinya, ia membayangkan kalau nanti kita seperti burung kakak tua itu. Semasa hidupnya selalu mengulang-ulangi kalimat "Laillahaillallah" hanya dengan lisannya, tetapi ketika ajal datang kita seakan lupa dan tidak menginggatnya lagi. Itu terjadi karena belum menghayatinya lewat hati dan kalimat tersebut hanya terucap lewat lisan tanpa dipahami oleh hati. Tersadar para santrinya menangis dan khawatir tidak jujur dengan hatinya terhadap kalimat tauhid itu sendiri.
Dan untuk diri kita sendiri, adakah dalam sanubari kita telah ditamamkan kalimat tauhid "Laillahaillallah" itu sendiri didalam diri sendiri. Tidak ada yang lebih agung dari keikhlasan dalam hati karena tidak ada sesuatu apapun yang akan naik ke langit tanpanya. Dan tidak ada yang lebih agung tanpa taufiq dari Allah, karena tidak akan ada sesuatu apapun yang turun ke bumi tanpa taufiq Allah SWT. Oleh sebab itu keikasan dan taufiq dari Allah SWT, kita akan mendapatkan sesuatu hal yang sangat menakjubkan dari Allah SWT.
إرسال تعليق