kabardanberita.com -Disalah satu pengadilan Qasim-Saudi Arabia, berdirilah seorang pria bernama Hizan Al Fuhaidi dengan tetesan air mata dipipinya hingga membasahi janggut yang ada diwajahnya. Laki-laki itu menangis karena kalah berseteru dengan adik kandungnya di pengadilan. Pasti kalian berfikir tentang apakah mereka berseteru sampai pergi kepengadilan ? karena harta warisan kah, kekerasan kah, atau hak tanah yang mereka perebutkan !! semua anggapan itu salah. Hizan Al Fuhaidi menangis karena kalah dengan adik kandungnya lantaran kalah hak asuh ibunya yang telah tua renta yang hanya memakai sebuah cincin timah dijarinya yang sudah tua dan keriput.
Seumur hidup ibunya telah tinggal bersama Hizan Al Fuhaidi dan ia senantiasa merawat ibunya hingga sekarang. Kemudian datanglah adiknya dari kota lain yang melihat ibunya yang sudah tua manula. Adiknya datang untuk membawa ibunya kekota dengan alasan perawatan dan fasilitas pengobatan di kota lebih lengkap dari pada didesa. Namun Hizan Al Fuhaidi menolak tawaran adiknya yang ingin membawa ibunya kekota dengan alasan selama ini dia masih mampu dan sanggup merawat ibunya sampai kapanpun. Akhirnya perseteruan ini pun sampai dibawa kepersidangan agar memiliki hak rawat ibunya.
Sidang demi sidang mereka lalui sampai majelis hakim meminta untuk menghadirkan ibunya keruang sidang. Mereka berduapung membopong ibunya yang hanya memiliki berat badan kurang dari 40 Kg secara bersama keruang sidang. Sang hakimpun kemudian bertanya kepada beliau, siapa yang lebih berhak untuk mendapatkan hak rawatnya. Sang Ibupun mengerti dan memahami pertanyaan dari sang hakim.
Sang Ibu menjawab
Sambil menunjuk ke Hizan Al Fuhaidi " Ini adalah mata kananku "
Kemudian ia menunjuk ke adik Hizan Al Fuhaidi " Dan ini adalah mata kiriku "
Sang hakimpun kemudian berfikir sejenak setelah mendengar jawaban dari sang ibu. Kemudian dia memberikan hak asuh kepada adiknya Hizan Al Fuhaidi dengan alasan kemaslahatan bagi si Ibu. Mendengar keputusan dari hakim Hizan Al Fuhaidi sepontan menangis berlinang air mata. Hizan Al Fuhaidi menangis karena menyesal tidak bisa merawat ibunya yang telah menginjak usia yang tua dan renta. Dan betapa terhormatnya seorang Ibu yang telah diperebutkan kedua anaknya hingga seperti ini.
Betapa mulianya seorang Ibu bagi mereka hingga lebih berharga dari apa yang mereka miliki. Andaikan kita bisa memahami bagaimana cara seorang Ibu mendidik kedua anaknya hingga ia dianggap ratu dan berlian yang berharga dimata kedua anaknya. Kisah ini adalah sebuah pembelajaran mahal karena pada zaman sekarang durhaka kepada orang tua telah menjadi sebuah budaya.
" Ya Allah dan Tuhan kami berikalan keridoan kedua orang tua kami, sehingga kami menjadi anak yang tidak durhaka kepadanya, Amin ".
إرسال تعليق